Hikam Zain

Satu Jam Bersama Kupu-Kupu Malam

Ilustrasi Kupu-Kupu Malam (Foto: Nukita.id)

NUKITA.ID, MALANG – Malam itu tepatnya malam minggu, saya pergi mengunjungi  lokalisasi. Disitu berjejeran wanita-wanita cantik berdandan rapi dan aduhai.

Seorang teman, saya suruh untuk memilih, dan diambil lah wanita yang semok berbodi montok kemudian dibawa ke villa yang sudah saya sewa.

"  Lo perempuannya cuma aku tok to Mas ? " Tanya wanita itu, karena melihat saya bertiga."  Iya mbak, saya hanya butuh interview dengan njenengan." 
"  O gitu to! Ndak maen sekalian? " Tanya ya dengan genit. " Mboten mbak ". Jawab saya. 

" Kita datang dari malang hanya ingin tahu dunia malam dan seluk beluknya."

Perbincangan itu saya mulai dengan menanyakan bagaimana ia bisa terjun kedunia malam.

Ia kemudian bercerita panjang lebar,  dan beginilah kisahnya;
awalnya saya itu mas, terlilit hutang 250 juta, rumah terbakar dan kemudian di tinggal suami. Untuk melunasi hutang itu saya harus bekerja, dan se _ngoyo_ wanita bekerja, gajian pun tidak akan besar lagi pula saya cuma tamatan SMA. Anak saya juga mondok mas, saya harus membiayai anak setiap bulan 700 ribu untuk bayar SPP dan uang makannya. 

" Terus mbak, berapa gaji perbulan njenengan?"

"Satu kali maen  bayar 350 ribu ke germonya, bersih saya menerima 140 ribu. Perhari biasa menerima pelanggan 3 sampai 4 kali kalau rame Mas, kalau sepi ya 2 atau satu kali saja." Jawabnya.

" La terus njen kok bisa memondokkan anaknya? "

" Iya Mas, dia nya sendiri yang minta, Neneknya yang selalu ngirim setiap bulan, tapi kadang saya juga ikut njenguk. "

 " Tapi apa ada niatan berhenti melakukan seperti ini ? ''

" Ya iyalah mas, hati nurani seseorang pasti juga ndak mau melakukan seperti ini. Tamuku kemarin memawarkan kerja dipabrik. Rencana saya akan kerja disana bulan depan. Terus mas,  bagaimana hidup saya supaya bica cukup. " tanya nya.
Kebetulan saya ke tempat itu bawa Mobil Alphard.

" Gini mbak, uang berapapun, kalau untuk hidup pasti  cukup, yang bikin selalu kurang itu adalah rasa *gengsi* kita terhadap apa yang dimiliki orang lain. Jawab saya dengan berlagak serius dan bijak. Hehehe.... dahulu saya pernah di ajari oleh guru guru saya, untuk bersedekah di tiap pagi hari setelah sholat subuh meskipun nominalnya kecil tapi harus rutin, insyaAllah disitu ada keberkahan.

" Oh gitu ya Mas."  Ia menjawab seakan akan meng-iyakan.

Perbincangan pun hening sejenak.

Dan kemudia ia bertanya, " mas yang pakai baju merah jadi maen nggak ? " 

" Enggak mbak, saya disini cuma nemenin saja."  Jawab teman saya.

" Apa sih suka dukanya menjadi PSK mbak ?".  Tanyaku.

"Ya macam macam sih mas, dari berbagai tamu yang berbeda-beda terkadang saya juga risih, malahan sempat kemarin ada tamu dari madura, saya di ajak akad nikah terlebih dahulu sebelum _gituan_, ya pakek bahasa arab-arab gitu, saya geli aja, wes ngelakoni duso kok yo sek ngono-ngono barang. Katanya sih dia takut  _awak e mreteli_ ya yang nikahkan juga pakek jubah jubah gitu, disini kayaknya juga disediakan Mas. Dia sambil tertawa terbahak-bahak. Hahaha."


Ya sudah mbak, maturnuwun atas pertemuannya, ini tambahan uang saku untuk anak embak yang lagi mondok.

Iya mas makasih, jadi beneran gak maen nih, beberapa hari tamu yang datang kepadaku aneh-aneh. Kata mbak nya.

Dan ia pun kembali ke tempat rumah bordil dan entah apa yang dilakukan setelahnya.

Semoga Hidayah Allah selalu turun pada hamba-hamba yang didalam hatinya tersimpan kebaikan meskipun hanya sekecil biji sawi
______________________________


PSK pekerja Seks Komersial, tidak bisa dipungkiri keberadaanya, mulai zaman dahulu kala, memang sudah exis dan ada. Berbagai hal yang melatar belakanginya ada yang karena keterpaksaan, jeratan ekonomi, atau karena kesedihan mendalam, atau bahkan hanya untuk kepuasan hawa nafsu.

Salam Takdzim
*Penulis adalah Ahmad Zain Badruddin, Ponpes An Nur 2 Bululawang, Malang

Berita Lainnya

berita terbaru

Abah Sanusi, Bupati Harapan NU?

22/10/2018 - 01:15

berita terbaru

ULAMA

17/09/2018 - 17:52

berita terbaru

Menyorot Polri Lawan Hoax

11/03/2018 - 23:59

Comments