PWNU Jatim Angkat Bicara Soal Kekerasan di Boarding School Bandung

berita terbaru nu kita
Pengurus PWNU Jatim Saat Melakukan Konferensi Pers di Kantor PWNU Jatim. (Foto: timesindonesia)
Senin, 13 Desember 2021 - 19:15 WIB | Dilihat: 896

NUKITA.ID, SURABAYA – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur angkat bicara soal kekerasan yang terjadi di Boarding School Bandung. Plt Ketua RMI (Robitoh Maahid Islamiyyah) Jatim atau Asosiasi Pesantren NU Indonesia, Salam Shohib mengatakan bahwa sebagain besar pelecehan terjadi bukan di pesantren yang berada dibawah naungan ulama atau yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama.

Meski demikian, pihaknya sangat prihatin dengan kejadian-kejadian ini. Harusnya dari kejadian tersebut semua pihak tak saling menyalahkan.

"Kalau saling mengklaim itu bukan solusi tapi yang lebih krusial itu bagaimana tanggung jawab kita untuk mendampingi korban, baik secara hukum, moral, sosial, dan memastikan masa depan para korban. Itu lebih baik dari pada saling menyalahkan," ujar Salam saat konferensi pers di Kantor PWNU Jatim, Minggu (12/12/2021).

Menurutnya, yang perlu ditekankan dari kejadian di Bandung tersebut adalah pihaknya mengajak semua pihak untuk saling terbuka dengan kejadian ini. Khususnya korban dan keluarga korban tidak segan-segan melapor.

"Asosiais pesantren akan mengadvokasi dan mendampingi serta berpihak pada korban. Akan kami pastikan bahwa NU akan mendampingi dan afirmasi terhadap korban dan keluarga korban," ungkapnya.

Bagi Nahdlatul Ulama, kejadian di Boarding School Bandung itu adalah sebagai intropeksi dan mencari solusi. Salah satu langkah konkrit yang dilakukan PWNU Jatim adalah memberikan sertifikasi pesantren dibawah naungan RMI, dengan sertifikat pesantren sehat dan aman.

"Kami berharap bisa memberi sertifikasi keamanan dari kejadian seperti ini, untuk memberikan ketegasan kepada publik mana pesantren yang afiliasi NU maupun tidak," urainya.

Upaya yang dilakukan Nahdlatul Ulama untuk mencegah kekerasan seksual di pesantren adalah dengan melakukan koordinasi dengan pihak internal maupun pihak eksternal. Di Internal seperti berkodinasi dengan LBH NU, LKKNU (Lembaga Kesehatan Keluarga Nahdlatul Ulama) dan dengan RMI. Kemudian eksternal berkoordinasi dengan LBH, KPAI (KomISI Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia serta dengan Kementerian Agama.

"Penting dengan Kemenag, karena kemenag yang memberikan kewenangan perizinan. Apalagi dalam berita yang beredar, ada kesan Board School memanfaatkan dana bantuan tidak hanya untuk kepentingan boarding school-nya tapi juga untuk kepentingan lain," tandasnya.

Pihaknya pun merekomendasikan Kemenag untuk berhati-hati dalam memberikan izin pendirian pesantren.

Pihaknya pun masih bersyukur, meski di tengah pandemi pesantren masih mendapat kepercayaan dari masyarakat. Bahkan pesantren dibawah naungan Nahdlatul Ulama atau RMI masih terus berkembang. (*)


Pewarta :
Editor :
Tags : , , , , ,

Comments: