PMII Unisma Adakan Kajian Terkait Permendikbud PPKS

berita terbaru nu kita
Foto bersama dengan Pemateri Kajian Terkait Permendikbud PPKS. (Foto: Istimewa)
Kamis, 09 Desember 2021 - 12:04 WIB | Dilihat: 811

NUKITA.ID, MALANG – uhan kader PMII Komisariat Unisma dan rayon-rayon di wilayah Kota Malang mendiskusikan tentang Permendikbud PPKS di lingkungan penguruan tinggi, dengan diadakannya talkshow yang bertajuk “Permendikbud Ristek 30/2021, Melegalkan Seks Atau??”, pada Sabtu (05/12). Pro dan kontra menyikapi Permendikbud 30 tahun 2021 masih terus berlangsung, beberapa pihak menyebut bahwa aturan itu diterbitkan guna melegalkan zina atau tindak asusila.  Acara yang diselenggarakan oleh Pengurus Kopri Rayon Sunan Bonang Komisariat Unisma ini adalah bagian dari rangkaian acara Harlah Kopri ke 54. Talkshow berlangsung selama satu setengah jam di D'lenga Coffe. Bersama Sahabat M Fahrudin ( Akademis FH Unisma) dan Sahabati Nur Jazah ( Akademis Fai Unisma dan Ketua Kopri RSB 2018) hadir sebagai pembicara. Acara dibuka oleh moderator, sahabat Ayin selaku Pengurus Rayon Sunan Bonang. Tidak lupa sahabat Ayin membacakan latar belakang diskusi yang dilakukan siang hari tersebut. Sahabat Fahrudin memulai diskusi dengan memaparkan materi dan topik pembahasan terkait kekerasan seksual. Menurutnya kekerasan seksual adalah sebuah perbuatan merendahkan, menghina, melecehkan atau menyerang tubuh, yang mana merugikan reproduksi dan mental seseorang yang berakibat penderitaan psikis atau fisik termasuk yang mengganggu kesehatan reproduksi seseorang dan hilangnya kesempatan melaksanakan kegiatan belajar mengajar di pendidikan tinggi dengan aman dan optimal. Pemateri menjelaskan bahwa korban tindakan ini diantaranya adalah mahasiswa, tenaga kependidikan, warga kampus dan masyarakat umum yang berpotensi mengalami kekerasan seksual. Menurut Fahrudin tujuan dari permendikbud sebagai pedoman bagi Perguruan Tinggi untuk menyusun kebijakan dan mengambil tindakan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) yang terkait dengan pelaksanaan Tridharma di dalam atau di luar kampus dan untuk menumbuhkan kehidupan kampus yang manusiawi, bermartabat, setara, inklusif, kolaboratif, serta tanpa kekerasan di antara mahasiswa, pendidik, tenaga kependidikan, dan warga kampus di perguruan tinggi. Masih banyak masyarakat dunia seakan kurang peduli atau tidak berpikir jauh mengenai hal ini, Fahrudin menjelaskan bahwa sesungguhnya ada banyak tindakan yang dapat dilakukan guna mengatasi atau membendung kekerasan seksual. Misalnya, mendekatkan diri kepada tuhan, memperdalam keilmuan, dan disosialisasikan kepada mahasiswa baru terkait kekerasan seksual. Faktor-faktor pemicu kekerasan seksual harus direduksi karena dampak yang ditimbulkan amat luas dan kian hari kian memprihatinkan. “Kita harus bersinegergi dalam mengatasi kekerasan seksual, dan perguruan tinggi menjadi garda terdepan dalam penolakan kekerasan seksual, dan perlu betul-betul kita kawal agar pemerintah pusat sampai pemerintah daerah memperhatikan dan menerapkan peraturan yang membuat para pelaku bisa sadar,” ujarnya. Dalam talkshow ini, tidak hanya pemaparkan materi. Ia pun mempersilakan peserta untuk aktif mengeluarkan pendapatnya dan saling berbagi ide. Sahabat Jamal salah seorang peserta yang merupakan mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam, menyampaikan apresiasinya terhadap talkshow ini. Ia juga sepaham bahwa kekerasan seksual harus mendapatkan perhatian lebih dan jika bisa dibentuk satgas untuk kekerasan seksual agar para pelaku-pelaku kekerasan seksual berhenti dan jera atas kelakuannya, peranan pemerintah dalam mengawasi tempat-tempat prostitusi, dan berharap agar tidak berhenti kajiannya di talkshow saja, menaruh harapan kepada pengurus komisariat dan pengurus cabang agar memperhatikan secara khusus terkait masalah kekerasan seksual ini. Ketua Kopri Rayon Sunan Bonang Sahabat Shafa mengatakan bahwa acara talkshow ini sangat penting dan beliau mengungkapkan bahwa kekerasan seksual harus betul betul di perhatikan agar tidak ada lagi yang menjadi korban, dan harapan nya pemerintah bisa menetapkan kejelasan terkait kekerasan seksual. Salam pergerakan. Penulis : Jamal ( pengurus rayon Sunan Bonang)


Pewarta : Roikhatul Zahra
Editor : Tim Nukita
Tags : , , , , ,

Comments: