Ulama Aswaja

Ketika Gus Miek Perintahkan Santrinya Makan Daging Babi

Gus Miek dan KH Achmad Sidiq

NUKITA.ID, MALANG – Gus Miek  adalah sosok ulama’ nyentrik yang dikenal luas sebagai seorang wali besar dari Pesantren Al-Falah Ploso Mojo Kediri. Sejak kecil, Gus Miek sudah menunjukkan kenyentrikannya, sehingga sang ayah KH Jadzuli Utsman sendiri sampai sempat kebingungan menghadapi putranya itu. Sampai akhirnya Kiai Djazuli mendapatkan penjealasan yang gamblang dari gurunya yakni Hadratusysyaikh KH Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

Jama’ah Gus Miek sangat luas, bukan hanya masyarakat santri di pesantren. Klub malam, tempat mabuk, prostitusi, tempat perjudian dan lainnya adalah ladang dakwah Gus Miek. Banyak kiai yang awalnya mencibir langkah dakwah Gus Miek, tetapi akhirnya malah banyak yang memuji.

Kiai Hamid Pasuruan yang saat itu masyhur dikenal sebagai seorang wali menilai dakwah Gus Miek itu hanya bisa dilakukan Gus Miek, tidak bisa dilakukan mayoritas kiai pada umumnya. Demikian juga Kiai Achmad Siddiq Jember awalnya juga meragukan langkah dakwah Gus Miek, tetapi akhirnya malah ikut serta menjadi penyokong utama gerakan dakwah Gus Miek.

Banyak kisah masyhur dalam hidup Gus Miek. Seringkali kisah-kisah itu menceritakan Gus Miek melakukan sesuatu yang melanggar syariat. Kisah-kisah itu bahkan sering disalahpahami, karena kisah yang hadir bisa jadi tidak lengkap dengan konteks kisah itu terjadi.

Kisah berikut ini memberikan penjelasan sangat gamblang tentang sosok Gus Miek yang sangat teguh dalam menjaga syariat.

Saat itu seorang santri diajak Gus Miek untuk memasuki sebuah restoran milik orang Cina. Gus Miek memang sengaja memesan makanan babi guling bakar. Perasaan santri yang menemani itu tentu saja sudah ketar-ketir. Setelah pesanan tiba, Gus Miek pun mempersilahkan santrinya untuk makan.

“Monggo, ayo dimakan!”

Hati yang sudah ketar-ketir itu tambah bingung. Kalau dimakan itu jelas daging babi, tapi kalau ditolak sangat tidak enak juga karena perintah Gus Miek. Akhirnya santri itu mengingat suatu peristiwa bahwa ketika Gus Miek minum minuman keras, ternyata itu jadi air putih atau terbuang di lautan.

Santri itu akhirnya memutuskan untuk makan daging babi tersebut. Kebingungannya menjadi yakin karena ada sosok Gus Miek disampingngnya.

“Plaaaaaakk!!!!”

Tamparan itu tiba-tiba datang ke pipinya santri. Kaget bukan kepalang. Gugup, takut dan bingung. Tamparan itu berasal dari sosok Gus Miek yang ada di sampingnya.

“Mondok berapa tahun, kok tidak tahu daging babi itu haram?” kata Gus Miek dengan nada marah.

“Tapi Gus …?”

“Tapi apa? sahut Gus Miek. “Siapa yang mengharamkan babi?”

“Allah …,” jawab santri itu meringis kesakitan.

“Siapa yang perintahkan kamu makan babi tadi?”

“Gus Miek..” jawabnya sambil menundukkan kepala.

“Lalu, siapa yang harus kamu dahulukan?” Tanya Gus Miek sekaligus membikin santrinya terdiam.

“Bila untuk pribadi, terapkan hukum syariat, supaya kamu berhati-hati. Tapi bila menilai orang lain, gunakanlah hakikat, agar kamu berprasangka baik.”

Itulah sosok Gus Miek. Dalam dirinya sangat teguh menjaga syariat Allah SWT. Walaupun kisah-kisah karomahnya seringkali tidak bisa dinalar, tapi Gus Miek sangat menjaga syariat kepada dirinya dan orang dekatnya.

Sumber : Bangkit media

Berita Lainnya

berita terbaru

Kiai Dan Politik Cultuurstelsel

13/06/2020 - 06:07

berita terbaru
Bencana Nasional Virus Corona COVID-19

Ini Pesan Habib Luthfi Bin Yahya Tentang Virus Corona

19/03/2020 - 13:16

berita terbaru
Berita Duka Datang dari Tokoh NU Kabupaten Malang

Biografi Singkat Almarhum Dr HM Taufiqi,SP,MPd

08/03/2020 - 02:09

Comments